
DARI ULTIMATUM AYAH HINGGA 6 GELAR JUARA NASIONAL ! AEP DADANG BONGKAR REALITA MOTOCROSS INDONESIA
GARUK TANAH — Nama Aep Dadang Supriatna bukan nama asing di dunia motocross Indonesia. Perjalanan panjangnya di lintasan telah melahirkan sebuah cerita yang tidak hanya berbicara tentang kecepatan, podium, dan gelar juara, tetapi juga tentang pengorbanan, tekanan, disiplin, hingga masa depan olahraga motocross Tanah Air.

Memulai karier pada 1992 dari dunia grasstrack, Aep Dadang perlahan membangun namanya hingga akhirnya menjelma menjadi salah satu pembalap papan atas Indonesia.

Enam kali menyandang status juara nasional motocross menjadi bukti bahwa perjalanan tersebut bukan sekadar keberuntungan.
Namun di balik angka enam gelar itu, ternyata tersimpan cerita yang jauh lebih keras. Sosok Penting dalam karir balap Motocross Aep Dadang Supriatna selain mendiang Ayahnya, juga om Sunarko yang banyak memberikan banyak ilmu dan pembelajaran dengan detail. Om Sunarko yang saat ini memiliki team JESS yang di dukung pabrikan Honda dengan pembalapnya Aep Dadang sangat mendominasi kompetisi Motocross Indonesia. ” Om Sunarko jasanya luar biasa dalam karir balap saya, kalau tidak ada dukungan om Sunarko, mungkin Aep Dadang tidak ada di dunia Motocross dengan peraihan prestasi, kalau ada itu hanya sebagai pembalap biasa saja,” ungkap Boep sapaan akrabnya.

DARI GRASSTRACK, BERJUANG, LALU MENJADI JUARA
Aep Dadang mengenang bagaimana dirinya memulai semuanya dari bawah. Tidak ada jalan instan untuk mencapai level tertinggi.
Dunia balap saat itu menuntut keberanian, mental, kemampuan membaca lintasan, sekaligus pengorbanan yang tidak sedikit.
Bahkan, perjalanan Aep sempat berhadapan dengan pilihan yang sangat berat dari sang ayah.
Balap atau pendidikan.
Ultimatum tersebut menjadi salah satu titik penting dalam perjalanan hidupnya. Di satu sisi ada dunia balap yang sudah menjadi passion, sementara di sisi lain ada pendidikan yang menjadi harapan keluarga.
Aep akhirnya memilih jalan yang membuat namanya kemudian dikenal di dunia motocross.
Pilihan itu dibayar dengan kerja keras bertahun-tahun.
Dan hasilnya?
Enam gelar juara nasional motocross.
Sebuah pencapaian yang tidak lahir dari proses semalam.

BUKAN LAGI SOAL MENANG
Kini Aep Dadang sudah tidak lagi berdiri sebagai pembalap aktif di garis start.
Namun menariknya, berhenti balapan ternyata tidak berarti berhenti berjuang.
Ia kini membangun dan mengelola tim sendiri, sekaligus aktif memberikan pelatihan motocross atau MX Training kepada para pembalap.
Justru pada fase inilah Aep menemukan tantangan baru.
Menurutnya, menjadi pembalap memang berat.
Tetapi mengelola tim dan membina pembalap muda ternyata bisa jauh lebih menguras mental.
Ketika masih menjadi pembalap, fokus utama adalah bagaimana dirinya bisa tampil maksimal di lintasan.
Sekarang ceritanya berbeda.
Ada pembalap yang harus dibina, karakter yang harus dibentuk, strategi yang harus dipikirkan, perkembangan teknik yang harus dipantau, hingga persoalan mental dan attitude yang tidak boleh diabaikan.
Menjadi pembalap mungkin hanya mempertaruhkan hasil sendiri. Menjadi mentor berarti ikut mempertaruhkan masa depan orang lain.

“JAGO BALAP SAJA TIDAK CUKUP!”
Di sinilah Aep memiliki pandangan yang cukup keras.
Menurutnya, seorang pembalap tidak cukup hanya memiliki kemampuan mengendalikan motor.
Disiplin, konsistensi dan attitude justru menjadi fondasi yang tidak boleh ditinggalkan.
Bagi Aep, kemampuan seorang atlet akan kehilangan makna apabila tidak dibarengi perilaku yang baik.
Karena pada akhirnya, seorang pembalap bukan hanya membawa nama dirinya sendiri.
Ia membawa nama tim, keluarga, sponsor, daerah, bahkan Indonesia ketika tampil di level internasional.
Skill bisa membuat seorang pembalap menang. Tetapi attitude yang baik yang membuat seorang pembalap dihargai dan memiliki perjalanan panjang.
Pesan tersebut menjadi semakin penting ketika dunia motocross Indonesia mulai dipenuhi pembalap-pembalap muda dengan talenta luar biasa.
Potensi ada.
Kecepatan ada.
Semangat juga ada.
Tetapi pertanyaannya:
Apakah sistem pembinaan kita sudah mampu mengantarkan mereka ke level yang lebih tinggi?

KRITIs UNTUK mengingatkan IMI: JANGAN BIARKAN TALENTA BERHENTI DI kompetisi DALAM NEGERI
Di bagian inilah pandangan Aep mulai menyentuh persoalan yang lebih besar.
Ia memberikan kritik membangun kepada Ikatan Motor Indonesia (IMI) mengenai pentingnya sistem penjenjangan pembalap.
Menurutnya, pembalap yang sudah menunjukkan prestasi harus memiliki jalur yang jelas untuk naik ke level berikutnya.
Jangan sampai seorang pembalap menjadi juara nasional, tetapi kemudian tidak memiliki peta jalan yang jelas untuk berkembang lebih jauh.
Karena jika targetnya hanya menjadi juara nasional, maka perjalanan pembalap Indonesia akan berhenti di satu titik.
Padahal dunia motocross jauh lebih luas.
Ada kejuaraan tingkat Asia.
Ada kompetisi internasional.
Dan pada level tertinggi, ada MX of Nations, panggung yang mempertemukan para pembalap terbaik dari berbagai negara.
Aep berharap pemerintah, regulator, federasi, dan seluruh stakeholder motocross dapat bersama-sama membuka jalan bagi pembalap nasional untuk merasakan atmosfer kompetisi internasional.
Bukan sekadar berangkat sebagai peserta.
Tetapi berangkat dengan persiapan, program, pendanaan, pembinaan, dan target yang jelas.

INDONESIA PUNYA TALENTA. LALU APA YANG KURANG?
Pertanyaan besar pun muncul.
Apakah Indonesia kekurangan pembalap berbakat?
Belum tentu.
Indonesia memiliki banyak pembalap muda dengan kemampuan yang menjanjikan.
Yang menjadi pekerjaan rumah adalah bagaimana talenta tersebut bisa berkembang secara berkelanjutan dan mendapatkan kesempatan untuk menguji kemampuan di level yang lebih tinggi.
Karena pengalaman bertanding di dalam negeri tentu berbeda dengan bertarung menghadapi pembalap-pembalap terbaik Asia maupun dunia.
Tanpa pengalaman tersebut, sulit mengetahui sejauh mana sebenarnya kemampuan pembalap Indonesia ketika berhadapan dengan kompetitor internasional.
Dan mungkin inilah pesan paling keras dari Aep Dadang:
Jangan hanya mencetak juara nasional. Cetaklah pembalap yang siap membawa nama Indonesia ke dunia.

DULU BERTARUNG UNTUK DIRI SENDIRI, SEKARANG BERJUANG UNTUK GENERASI BERIKUTNYA
Perjalanan Aep Dadang kini memasuki babak berbeda.
Dulu ia mengejar podium.
Sekarang ia membantu pembalap muda mengejar masa depan.
Dulu ia memikirkan bagaimana melewati garis finis sebagai pemenang.
Sekarang ia memikirkan bagaimana generasi berikutnya bisa memiliki jalan yang lebih baik daripada generasi sebelumnya.
Enam gelar juara nasional mungkin menjadi bagian paling mudah untuk ditulis dalam sejarah karier Aep Dadang.
Namun warisan terbesar seorang legenda bukan hanya jumlah piala yang tersimpan di rumah.
Warisan terbesar adalah ketika pengalaman yang dimilikinya mampu melahirkan pembalap-pembalap baru yang suatu hari nanti berdiri di podium internasional.
Dan jika motocross Indonesia benar-benar ingin berbicara lebih keras di panggung dunia, mungkin sudah saatnya pertanyaan-pertanyaan seperti yang disampaikan Aep Dadang tidak hanya didengar.
Tetapi mulai dijawab dengan program nyata.
Karena lintasan dunia sudah menunggu.
Pertanyaannya sekarang: apakah Indonesia siap mengirim pembalap terbaiknya ke sana?
Recent Comments