
GARUKTANAH— Dunia motocross Indonesia sebenarnya tidak pernah kehabisan talenta. Dari pembalap usia dini yang mulai berjuang di kelas 50cc hingga rider yang bertarung di kelas profesional, potensi pembalap tanah air dinilai sangat besar.Namun, di balik derasnya bakat tersebut, masih ada sejumlah pekerjaan rumah besar yang harus diselesaikan jika Indonesia ingin melahirkan pembalap yang mampu berbicara lebih jauh di level internasional. Hal itu disampaikan Iwan Hermawan, pemilik IHMX School sekaligus sosok yang aktif menyelenggarakan event balap di Sirkuit Cambora,Sumedang, Jawa-Barat. Menurut Iwan, pembinaan pembalap Indonesia sebenarnya sudah memiliki modal yang sangat kuat, Mulai dari 50cc hingga Kleas Profesional sudah ada dan terbukti performanya bersaing.

BAKAT ADA, DARI 50CC SAMPAI KELAS PROFESIONAL
Iwan Hermawan melihat perkembangan pembalap Indonesia dari usia dini sebagai sesuatu yang sangat menjanjikan. Pembinaan bahkan sudah bergerak dari kelas 50cc. Dari sinilah bibit-bibit pembalap mulai dikenalkan dengan teknik dasar, mental bertanding, hingga atmosfer kompetisi.“Bakat pembalap kita luar biasa,” menjadi salah satu poin penting yang disoroti Iwan Hermawan.
Artinya, persoalan motocross Indonesia bukan semata-mata mencari pembalap berbakat. Tantangan berikutnya adalah bagaimana menjaga mereka agar tetap berkembang, mendapatkan kompetisi yang berkualitas, dan memiliki jalur karier yang jelas hingga kelas profesional.

SIRKUIT PERMANEN MASIH MENJADI TANTANGAN UNTUK NMEWUJUDKANNYA
Salah satu persoalan paling serius yang menurut Iwan perlu mendapat perhatian adalah ketersediaan sirkuit. Indonesia hingga kini masih membutuhkan fasilitas motocross permanen dengan standar yang benar-benar mampu mengakomodasi kebutuhan full motocross. Bagi Iwan, keberadaan sirkuit bukan sekadar tempat balapan. Sirkuit merupakan bagian penting dari sistem pembinaan. Di sanalah pembalap bisa berlatih secara konsisten, mengembangkan teknik, memahami karakter lintasan, sekaligus mendapatkan pengalaman kompetisi yang lebih beragam. Karena itu, Iwan juga memiliki gagasan untuk mengembangkan sirkuit yang bisa menjawab kebutuhan tersebut. Jika terealisasi, fasilitas semacam ini bukan hanya menjadi arena perlombaan, tetapi juga dapat menjadi salah satu fondasi pengembangan motocross Indonesia.

OUTDOOR, TAPI ATMOSFERNYA HARUS SEPERTI SUPERCROSS
Menariknya, Iwan Hermawan tidak menutup mata terhadap kondisi nyata di lapangan, terutama persoalan lahan. Format outdoor masih menjadi pilihan yang lebih memungkinkan. Namun bukan berarti balapan outdoor harus kehilangan sensasi dan atmosfer seperti supercross. Justru di sinilah kreativitas penyelenggara diuji. Pemilik brand Apparel Riding Gear berlabel My One ini berupaya mengemas event lokal dengan karakter lintasan, tata letak, serta atmosfer kompetisi yang mampu memberikan tantangan berbeda kepada pembalap. Dengan kata lain, bukan sekadar membuat pembalap “gas dan balap”, tetapi menghadirkan sebuah pertunjukan yang memiliki daya tarik bagi pembalap sekaligus penonton.

Konsep tersebut menjadi penting karena motocross modern tidak hanya berbicara tentang siapa yang paling cepat di lintasan. Kemasan event, kualitas lintasan, persaingan, penonton, sponsor, hingga pengalaman pembalap semuanya menjadi satu kesatuan. PEMBALAP, PROMOTOR, DAN SPONSOR HARUS BERJALAN BERSAMA. Menurut Iwan, kemajuan motocross Indonesia tidak mungkin dibebankan kepada satu pihak saja.Pembalap membutuhkan kompetisi.Promotor membutuhkan pembalap dan penonton.Sementara sponsor membutuhkan sebuah ekosistem yang sehat, profesional, dan memiliki prospek jangka panjang.
Karena itu, kekompakan antara pembalap, promotor, dan sponsor menjadi salah satu kunci penting.Jika ketiganya berjalan sendiri-sendiri, perkembangan motocross akan sulit mencapai level yang diharapkan.Sebaliknya, jika ketiga unsur tersebut bisa membangun komunikasi dan kepentingan bersama, peluang untuk menciptakan kompetisi yang lebih kuat akan semakin terbuka.

TARGETNYA BUKAN SEKADAR JUARA DI INDONESIA
Pada akhirnya, harapan Iwan jauh lebih besar daripada sekadar membuat event ramai atau melahirkan juara nasional.
Ia ingin ekosistem motocross Indonesia berkembang sehingga pembalap lokal memiliki bekal yang cukup ketika harus berhadapan dengan pembalap dari negara lain.Sebab, pertanyaan besarnya bukan lagi: “Apakah Indonesia punya pembalap berbakat?” Jawabannya sudah jelas: punya.
Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah:“Apakah Indonesia mampu menyediakan sistem yang membuat bakat tersebut bertahan, berkembang, dan naik kelas hingga level internasional?” Di titik inilah pekerjaan rumah motocross Indonesia berada.
Bakat sudah tersedia. Pembalap muda terus bermunculan. Sekolah balap berkembang. Event terus digelar.Kini yang dibutuhkan adalah sirkuit yang layak, kompetisi yang konsisten, promotor yang kuat, dukungan sponsor, serta ekosistem yang mampu menjaga pembalap tetap bertahan di motocross.
Dan dari Sumedang, Iwan Hermawan bersama IHMX School mencoba ikut mengambil bagian dalam perjalanan panjang tersebut.
Karena motocross Indonesia tidak kekurangan gas. Yang dibutuhkan adalah jalan yang tepat agar gas itu bisa membawa pembalap Indonesia melaju lebih jauh—bahkan sampai panggung internasional.

INDONESIA PUNYA PEMBALAP, TAPI BELUM PUNYA “RUMAH” MOTOCROSS YANG IDEAL
Persoalan berikutnya bahkan lebih fundamental: sirkuit. Dari pandangan Garuk Tanah dan disepakati oleh Iwan Hermawan, Indonesia masih membutuhkan sirkuit permanen dengan standar yang benar-benar mendukung kebutuhan full motocross. Selama ini berbagai event dapat digelar di banyak daerah. Namun kebutuhan terhadap fasilitas permanen tetap menjadi pekerjaan rumah. Sirkuit bukan sekadar tanah yang dibentuk menjadi jumping dan berm. Sirkuit adalah tempat pembalap belajar,Tempat pembalap berlatih.,Tempat tim melakukan pengembangan.Tempat promotor membangun event,Dan yang paling penting, tempat generasi berikutnya mendapatkan pengalaman untuk menjadi pembalap profesional. Saat berdialog dengan Redaksi Garuk Tanah, Iwan Mengungkapkan bahwa dirinya memiliki gagasan untuk mengembangkan sirkuit yang mampu memenuhi kebutuhan motocross secara lebih serius. Jika terealisasi, konsep tersebut bisa menjadi bagian penting dari perjalanan panjang IHMX 26 dan perkembangan motocross di Indonesia.

OUTDOOR BOLEH, TAPI JANGAN KALAH DARI SUPERCROSS!
Iwan juga melihat persoalan dari sisi penyelenggaraan.Keterbatasan lahan membuat konsep outdoor menjadi pilihan yang lebih realistis. Tetapi menurutnya, outdoor tidak berarti harus kehilangan sensasi sebuah pertunjukan besar. Justru di sinilah kreativitas promotor dibutuhkan. Lintasan dapat dirancang lebih menantang. Atmosfer bisa dibuat lebih hidup. Persaingan bisa dikemas lebih menarik. Dan penonton harus mendapatkan pengalaman yang membuat mereka ingin kembali datang. Semangatnya adalah: balapan lokal boleh outdoor, tetapi atmosfernya harus mampu membuat orang merasakan energi supercross.
Ini bukan hanya soal siapa yang finis pertama.Ini soal bagaimana sebuah event bisa menjadi produk olahraga yang menarik bagi pembalap, penonton, sponsor, dan media.
DARI 50CC KE MX1: JALANNYA PANJANG, IMI HARUS BERPERAN AKTIF BERSINERGI MENDUKUNG PEMBINAAN DAN MEMFASILITASI!
Iwan Hermawan melihat pembinaan usia dini sebagai fondasi penting. Pembalap yang saat ini berkompetisi di kelas 50cc bukan sekadar peserta kecil yang mengisi gate. Mereka adalah calon pembalap masa depan.Namun perjalanan dari 50cc menuju kelas profesional tidak boleh berhenti di tengah jalan.
Diperlukan sistem pembinaan yang berkelanjutan.Diperlukan kompetisi.Diperlukan sirkuit. Diperlukan mentor.
Diperlukan sponsor.Dan tentu saja diperlukan keluarga yang mampu mendukung perjalanan panjang tersebut.Kalau rantainya putus, bakat sebesar apa pun bisa berhenti sebelum mencapai puncaknya. Situasi ini menjadi PR ( Pekerjaan Rumah ) yang harus IMI Prioritaskan, dan jangan lagi menganggap sebelah mata cabor OffRoad, yang jelas jenjangnya Motocross dan Enduro ke kejuaraan Internasional dan Kejuaraan Dunia.
Jangan salah membaca situasi motocross Indonesia, Di balik riuhnya suara mesin, padatnya gate start, dan munculnya pembalap-pembalap muda dari berbagai daerah, ada satu persoalan besar yang mulai layak menjadi perhatian serius: Indonesia punya banyak bakat, tetapi belum sepenuhnya memiliki ekosistem yang mampu menjaga bakat itu tetap hidup sampai kelas tertinggi. Pernyataan tersebut menjadi salah satu sorotan Para Penggiat Motocross, dan potensi pembalap Indonesia sebenarnya tidak perlu diragukan. Dari usia dini, bahkan mulai kelas 50cc, bibit-bibit pembalap terus bermunculan. Mereka tumbuh dengan kemampuan dan keberanian yang menurutnya sangat luar biasa.

SPONSOR JANGAN HANYA DATANG SAAT PODIUM
Salah satu persoalan yang tidak bisa dilepaskan dari motocross adalah pendanaan. Pembalap membutuhkan biaya besar untuk latihan, kendaraan, mekanik,perjalanan, perlengkapan, dan mengikuti kompetisi.Karena itu, keberadaan sponsor menjadi sangat penting.Namun ekosistem sponsorship juga membutuhkan kompetisi yang menarik dan profesional. Di sinilah pembalap dan promotor harus sama-sama berbenah. Pembalap harus membangun prestasi sekaligus memiliki nilai sebagai figur. Promotor harus mampu menciptakan event yang profesional dan memiliki penonton.
Sponsor mendapatkan ruang untuk membangun brand. Ketiganya harus saling menghidupkan, bukan berjalan sendiri-sendiri.
Namun ekosistem sponsorship juga membutuhkan kompetisi yang menarik dan profesional,Di sinilah pembalap dan promotor harus sama-sama berbenah.
Pembalap harus membangun prestasi sekaligus memiliki nilai sebagai figur,Promotor harus mampu menciptakan event yang profesional dan memiliki penonton.
Sponsor mendapatkan ruang untuk membangun brand,Ketiganya harus saling menghidupkan, bukan berjalan sendiri-sendiri. Sekarang tinggal membuktikan apakah kita punya keberanian untuk membangun masa depannya,Jangan sampai pembalap kita hebat, tapi Kehilangan jalan penjenjangan naik kelas ke panggung internasional dengan kesiapan yang matang.

JANGAN SAMPAI PEMBALAP KITA HEBAT, TAPI KEHILANGAN JALAN
Harapan terbesar Iwan Hermawan dan seluruh pelaku balap Motocross sebenarnya sederhana namun sangat penting. Motocross Indonesia harus memiliki ekosistem yang lebih kuat. Indonesia sudah memiliki modal besar berupa pembalap berbakat. Tetapi bakat saja tidak cukup dan Pembalap membutuhkan panggung. Sedangkan Panggung membutuhkan event, lalu Event membutuhkan promotor. dan kemudian Promotor membutuhkan sponsor. Dan semuanya itumembutuhkan penonton. Itu adalah sebuah mata rantai yang tidak bisa dipisahkan,Jika salah satu bagian rapuh, bagian lainnya ikut terdampak.

PERTARUHANNYA BUKAN SEKADAR PODIUM TAPI MENGHIDUPKAN EKOSISTEM DARI HULU KE HILIR
Pada akhirnya, pembicaraan Iwan Hermawan membuka pertanyaan yang lebih besar untuk motocross Indonesia.
Apakah kita hanya ingin menjadi negara yang menghasilkan banyak pembalap berbakat?Atau kita ingin menjadi negara yang mampu membentuk pembalap berbakat menjadi pembalap berkelas internasional?Sebab potensi sudah ada.Anak-anak muda sudah berani membuka gas sejak kelas 50cc.Pembalap senior masih bertahan,Sekolah balap terus bergerak,Event terus bermunculan,Namun pekerjaan rumahnya juga jelas, yaitu : sirkuit, kompetisi, sponsor, promotor, pembinaan, dan keberlangsungan kelas profesional harus dibangun bersama. Pengurus IMI mulai dari Direktur setiap bidang, Deputy, Waketum hingga Ketua Umum fokus dan prioritaskan ekpansi dengan para produsen,protokoler pemerintahan dan institusi yang berhubungan. Mekanisme teknis dilapangan tugasnya Ketua Komisi dan Anggotanya pada setiap bidang yang dimonitoring oleh Direktur tiap bidang cabang olahraga. Ada persoalan pembinaan, biaya, sponsor, kalender kompetisi, hingga bagaimana sebuah event dikemas agar memiliki nilai yang menarik bagi semua pihak. INDONESIA Punya Pembalap, Tapi Belum Punya “RUMAH MOTOCROSS” Yang Ideal.

IWAN HERMAWAN MASIH TURUN DI MX1? TARGETNYA BUKAN SEKADAR SOAL PODIUM
Ada satu hal yang membuat langkah Iwan cukup menarik perhatian. Di tengah kesibukannya sebagai pemilik sekolah motocross dan penyelenggara event, Ia masih turun langsung membalap di kelas MX1.Bagi Iwan, kehadirannya di MX1 bukan hanya persoalan mengejar hasil balapan,Ada alasan yang lebih besar, yaitu: menjaga agar kelas tertinggi motocross tetap memiliki kehidupan.
Menurutnya, semakin banyak pembalap yang berhenti karena persoalan sponsor. Sebagian lainnya memilih berpindah ke grasstrack. Kondisi tersebut tentu menjadi perhatian. Sebab, kelas MX1 membutuhkan pembalap. Tanpa adanya rider yang konsisten bertahan, kelas tertinggi justru berisiko kehilangan daya tarik dan regenerasi. Maka ketika Iwan Hermawan masih turun di MX1, langkah tersebut dapat dilihat sebagai bagian dari upaya mempertahankan eksistensi kelas tersebut. Crosser asal Sumedang dan berpenampilan khas, tidak hanya berbicara tentang motocross dari pinggir lintasan. Ia masih berada di dalamnya, menarik gas dan menghadapi risiko yang sama dengan pembalap lainnya. Masalahnya bukan kekurangan talenta, Masalahnya adalah bagaimana talenta itu bisa terus bertahan, berkembang, dan akhirnya memiliki jalan menuju level profesional. Komitmennya akan terus melebur dalam balapan dibalik upaya pembenahan dan pembuktian di luar track, Dan Iwan Hermawan memilih untuk tidak hanya berbicara,tapi turun langsung Sebagai pembalap MX1,Sebagai pemilik IHMX School,Sekaligus sebagai penyelenggara event.

JANGAN SAMPAI INDONESIA KEKURANGAN PEMBALAP BUKAN KARENA KEKURANGAN BAKAT, TAPI KARENA KEKURANGAN EKOSISTEM.
Kalau semua pihak mampu duduk bersama dan bergerak dalam satu arah, bukan tidak mungkin suatu hari nanti pembalap Indonesia tidak hanya mendominasi lintasan dalam negeri. Tetapi benar-benar datang ke panggung internasional dengan kesiapan yang matang. Motocross Indonesia punya bakat. Sekarang tinggal membuktikan apakah kita punya keberanian untuk membangun masa depannya.
Ada persoalan pembinaan, biaya, sponsor, kalender kompetisi, hingga bagaimana sebuah event dikemas agar memiliki nilai yang menarik bagi semua pihak dan menjadi pengingat hingga sekaligus menjadi pesan keras.

Recent Comments